DestinationsKota JogjaWisata Budaya dan Sejarah

Menapak Jejak Sejarah di Candi Kalasan

Menelusuri abad ke 8, lewat Candi Kalasan

JOGJATRAVEL.ID-YOGYAKARTA- Menikmati liburan Wisata sejarah, memang menjadi sesuatu yang wajib saat berkunjung ke Yogyakarta. Candi dengan berbagai ukuran, dengan beragamnya corak agama baik Hindu dan juga Budha. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang kaya akan peninggalan candi. Salah satunya yang masih terjaga hingga saat ini yaitu, Candi Kalasan.

Candi yang sangat mudah di jangkau karena jaraknya yang hanya 30meter dari jalan utama yakni jalan Jogja- Solo dan hanya 3kilometer jaraknya dari Barat Candi Prambanan yang merupakan salah satu Candi peninggalan Hindu terbesar di Indonesia.

Bangunan tubuh candi berdiri pada batu setinggi 1 meter dengan kaki candi setinggi 3 meter, tubuh 13 meter dan atap 7 meter. Tubuh candi berdenah bujur sangkar berukuran 16,5 meter x 16,5 meter. Ditiap sisi bangunan terdapat pintu dengan tangga, pintu utama ada di timur menuju bilik utama. Dahulunya pada bilik utama ini terdapat sebuah arca yang cukup besar, hal itu diketahui dari dudukan arca yang besar. Tahun 1939-1940 dilakukan perbaikan dengan memasang kembali batu-batu atap serta melakukan konsolidasi pintu masuk sisi selatan yang mulai rusak.

Secara administratif candi Kalasan terletak di Dusun Kalibening, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Keberadaan candi tersebut dikaitkan dengan sebuah prasasti batu bahasa Sansekerta berhuruf Pranagari tahun 778 Masehi. Dalam prasasti tersebut disebutkan diperingatinya jasa Maharaja Tejahpurana Panangkaran yang telah membangun sebuah kuil bagi Dewi Tara serta memuat arca dewi yang kemudian ditahtakan di dalam kuil tersebut.

Kuil tersebut dinamakan Tarabhawana yang kini dikenal sebagai Candi Kalasan. Selain itu di dalam prasasti Kalasan juga disebutkan tentang pendirian tempat tinggal (asrama) bagi para pendeta dengan menghibahkan desa Kalasan kepada Sangha. Pada prasasti tersebut, baik kuil Dewi Tara maupun asrama disebut sebagai Wihara. Penyebutan asrama bagi para Sangha sesuai dengan prasasti sering dikaitkan dengan bangunan Candi Sari yang berada 500 meter disisi  timur laut Candi Kalasan.

Berdasar penelitian bangunan saat ini merupakan bagunan ketiga, sehingga diperkirakan penyebutan tahun 700 Saka dalam prasasti tentu bukan bangunan saat ini, melainkan bangunan yang telah ditutup bangunan baru. Seni hias pada candi ini yaitu pola hias sulur gelung yang ditempatkan secara vertical pada tubuh candi sehingga memberi kesan tinggi pada bangunan.

Relief pada tubuh bangunan candi dipahat secara halus yang kemudian dilapisian bajarlepa yakni semacam semen pelapis sisi luar bangunan. Lapisan ini terlihat hingga tiga lapis yang saling bertumpuk. Berdasar analisis laboraturium lapisan tersusun dari kwarsa 30%, kalsit 40%, kalkoprint 25%, serta lempung 5%. Keunikan lainnya dijumpai, monolit di tangga pintu masuk sisi timur. Batu ini sering disebut sebagai moonstone (batu bulan)

Harga tiket untuk masuk candi bercorak Budha ini cukup terjangkau. Untuk wisatawan domestik hanya perlu merogoh kocek Rp5.000, sementara untuk wisatawan Mancanegara hanya Rp10.000. Candi kalasan merupakan kompleks bangunan yang terdiri dari bangunan induk yang dikeliling oleh stupa sebanyak 52 buah yang mengitari batur candi. Saat ini bangunan candi kalasan adalah 24 meter. (Oke)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Close