BantulKulinerRekomendasi

Lengket dan Lekat dengan Cokelat di Museum Cokelat Monggo

Masuk ke sebuah museum penuh dengan cokelat bukanlah hal mustahil di Yogyakarta. Lewat Museum And Factory Chocolate Monggo, setiap orang kini bisa semakin dekat dan lekat dengan cokelat.

Museum yang didirikan seorang Belgia bernama Thierry Detournay ini menempati lahan seluas tiga hektare di Sribitan, Bangunjiwo, Bantul. Menuju lokasi museum juga tidak sulit, selain mengikuti petunjuk Google Maps, bisa juga melalui Desa Wisata Kasongan lalu ke arah barat. Kira-kira membutuhkan waktu sekitar 10 menit dari gapura Kasongan Jalan Bantul.

Museum ini secara detail menjelaskan seluk beluk cokelat, mulai dari sejarah, proses pengelolaan cokelat dari pohon sampai mesin produksi, aneka jenis cokelat, sampai mengajak pengunjung membuat cokelat sendiri. Museum And Factory Chocolate Monggo terdiri dari
museum, pabrik, show room, dan kafe.

Museum yang berdiri sejak 2017 ini buka setiap hari kerja mulai pukul 09.00 sampai 17.00 WIB dan akhir pekan mulai pukul 09.00 sampai 19.00 WIB. Pengunjung masuk membayar tiket Rp 10.000 yang dikembalikan lagi kepada pengunjung dalam bentuk voucher. Voucher ini bisa dibelanjakan di show room untuk membeli cokelat.

“Ada juga praktik mencetak cokelat dan merasakan cokelat untuk pengunjung, biayanya beragam tergantung jenis paket yang dipilih,” ujar Tri Widiantoro, koordinator Museum And Factory Chocolate Monggo Bantul, beberapa waktu lalu.

Praktik mencetak cokelat atau creating experience dibanderol harga Rp 200.000 untuk 20 keping cokelat dan maksimal diikuti 10 orang. Sedangkan pengunjung yang ingin mengikuti paket mencicipi atau tasting experience dikenakan biaya Rp 50.000 per orang.

Menurut Tri, museum ini memberi edukasi kepada masyarakat mengenai cokelat yang sesungguhnya.

Ia prihatin sebagai negara ketiga penghasil cokelat terbesar di dunia, justru keberadaan cokelat belum sepenuhnya diketahui masyarakat.

Ia menuturkan sebagian besar orang Indonesia tidak tahu jenis kakao. Buah ini menjadi embrio cokelat. Persepsi yang salah soal cokelat juga mencuat saat orang berpikir cokelat rasanya manis dan cokelat diberi nama cokelat karena warnanya yang coklat.

Tri bercerita petani kakao di Indonesia memilih untuk mengganti pohon kakao dengan tanaman lain karena sering dianggap tidak menjanjikan. Cokelat yang dihasilkan dari biji kakao kurang berkualitas.

“Padahal itu karena mereka tidak tahu cara mengolah biji kakao menjadi cokelat secara tepat dan di museum ini semua akan dijelaskan,” tuturnya. (Gwen)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Close