BantulDestinationsFeaturedGunungkidulNewsRekomendasiTips & AdvicesTourTravel GuideWisata Alam
Trending

Mandi Matahari Di Petilasan Prabu Brawijaya V, Watu Payung

Sensansi seperti ini bisa wisatawan rasakan di obyek wisata yang belum lama muncul di Gunungkidul, Watu Payung Turunan. Watu Payung merupakan sebuah obyek wisata yang berada di sebuah lereng perbukitan di Kecamatan Panggang, Gunungkidul. Tepat di Dusun Turunan, Desa Girisubo, Kecamatan Panggang.

Sunrise atau matahari terbit memang sangat nyaman untuk dinikmati dari atas ketinggian. Kiri kanan mentari yang berkabut diiringi dengan dinginnya udara pagi yang masih sangat segar menambah suasana semakin menyegarkan. Negeri di Atas Awan menjadi imajinasi tinggi ketika menyaksikan matahari muncul dari peranduan.

Di Watu Payung, beberapa spot bisa dinikmati oleh para pengunjung dengan sepuasnya. ‘Anyaman ranting pohon ataupun ranting bambu’ yang dikemas menjadi beragam bentuk yang sangat indah memang menjadi lokasi berswafoto andalan. Lebih indah lagi ketika lokasi swafoto berada di ketinggian, sensasi berswafoto menjadi sangat menarik.

Hamparan pegunungan berwarna hijau langsung terpapar ketika pengunjung sampai di lokasi parkir kendaraan. Keindahan mulai terpapar ketika pengunjung berjalan kaki menyusuri hutan jati di Geoforest Turunan untuk menuju ke lokasi spot selfi yang ditawarkan oleh masyarakat sekitar. Di lokasi inilah ada batu yang mirip dengan payung karena di bagian bawah menyempit layaknya payung.

Memang, untuk menuju ke kawasan swa foto, pengunjung harus berjalan beberapa ratus meter menyusuri hutan jati di dusun tersebut. Jalan setapak yang dilalui pengunjungpun kini sudah indah karena beberapa ornamen sengaja disajikan oleh masyarakat sekitar. Gerbang kayu jati yang unik berada di kawasan hutan jati tersebut nampak sayang ketika dilewati.

Usai melewati gerbang pintu jati, pengunjung bisa sampai di spot selfi. Saat sampai di spot selfi terpapar hamparan pemandangan terbuka yang sangat mempesona. Berlatar belakang hamparan pegunungan hijau yang luas dan lembah sungai Oya, menjadikan foto pengunjung semakin menawan.

Baca Juga :  Dicari IMBA Coffee ! Si Tersembunyi Andalan Pencinta Kopi

Untuk datang ke WatuPayung Turunan, memang sebaiknya dilakukan di pagi hari yaitu menjelangmatahari terbit. Tentu, untuk dapat menikmati suasana matahari terbit,pengunjung minimal harus sudah datang ketika subuh.Sehingga akan menyaksikan keindahan matahari keluar dari peranduang memecahkabut. Namun, untuk menikmati kabut, hanya pengunjung yang beruntung sajakarena tidak setiap hari kabut bisa didapati di tempat tersebut.

“Di sini pengunjungjuga bisa menikmati hamparan samudera berkabut dari ketinggian,” tutursalah satu pengelola obyek wisata Watu Payung, Subagyo.

Lokasi Watu Payung sebenarnya tidak terlalu sulit dan tidak terlalu jauh untuk dijangkau. Karena dengan menggunakan kendaraan bermotor seperti mobil ataupun motor, perjalanan dariKota Yogyakarta cukup ditempuh selama 1 jam.Dengan menyusuri jalan Imogiri barat ataupun Imogiri Timur, maka pengunjungbisa sampai di Watu Payung.

Menurut Subagyo, Watu Payung memang tidak lepas dari kisah legenda yang melekat di masyarakat setempat. Oleh masyarakat sekitar, Watu Payung pernah disinggahi oleh Prabu Brawijaya V. Di tempat tersebut, selain Watu Payung, pengunjung juga bisa menikmati sebuah telaga yang dinamakan Sendang Beji.

“Di sendang ini pernah digunakan untuk mandi Jaka Tarub dan tujuh bidadari,”tambahnya.

Legenda itu memang masih sangat melekat dengan ketenaran Watu Payung kini, bahkan spot-spot selfi yang kini sudah ditata dengan cerita legenda yang beredar. Seperti spot Pintu pertama yang sengaja oleh pengelola diberi nama Andom Tumtom atau berbagi untuk kebahagian bersama.

Spot selfi yang keduadiberi nama Manara Hati Mercusuar atau perlambang penerangan bagi kami danteman-teman dalam pengelolaan wisata Watu payung. Sementara spot selfi jembatanGoro-goro yang merupakan simbol sebuahperjalanan kelompok wisata yang hampir bubar karena selisih paham waktu itu.

Keempat adalah spotselfi Hasto Hapsari yang berada di sendang Beji. Makna Hasto Hapsari adalahsebuah ungkapan masyarakat yang berarti Hasto atau delapan dan hamsar adalahbidadari. Hal tersebut menggambarkan ceritasejarah Jaka Tarub yang berada di Sendang Beji Turunan.

Baca Juga :  Dicari IMBA Coffee ! Si Tersembunyi Andalan Pencinta Kopi

“Wisata Watu Payung pernah dibuka tahun 2011 lalu, tetapi pernah kembali ditutup karena tidak begitu menarik untuk dikunjungi. Kini ditata kembali, dan diresmikan awal tahun 2018 ini,”tambahnya.

Sensasi Watu Payung dapat dinikmati oleh pengunjung selama 24 jam penuh. Selain matahari terbit, pengunjung juga bisa menikmati matahari terbenam dan sensasi pijar lampu di malam hari dari kejauhan lembah Sungai Oya. Sensasi Watu Payung sudah mulai menarik wisatawan, bahkan untuk hajatan malam tahun baru nanti, sejumlah home stay dan penginapan yang ditawarkan pengelola sudah penuh dipesan mulai tangga 27 hingga tanggal 31 Desember. (Ing)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Close