DestinationsKulinerSleman

D’Padukan, Menelan Senja dengan Pie dan Kopi di Kaki Merapi

Banyak cara menghabiskan senja. Tidak harus pergi ke pantai untuk menikmati perjalanan terbenamnya matahari. D’Padukan Pie And Resto, misalnya, menawarkan pemandangan itu dari kaki Gunung Merapi.

Resto yang berlokasi di di Dusun Padukan, Pakem, Sleman ini menghadirkan suasana senja yang berbeda. Indahnya langit menyongsong matahari pulang ke perpaduan bisa disambi dengan menyantap sepiring pie lezat dan menyeruput kopi.

Bangunan resto ini terdiri dari dua lantai dengan interior bergaya Italia. Balkon dirancang untuk menghabiskan sore sembari memanjakan mata dan lidah.

Sensasi matahari terbenam tepat di atas kepala pun bisa dirasakan. Tidak salah, jika sebagian besar pengunjung mengabadikan momen itu untuk berswafoto dan mengunggahnya ke akun media sosial.

D’Padukan Pie And Resto juga mudah dijangkau. Dari pusat kota berjarak sekitar 17 kilometer menuju ke utara atau tepatnya, di sisi timur Jalan Kaliurang Km. 17.

Resto yang dibuka sejak dua tahun lalu ini dibangun di atas lahan seluas 300 meter persegi. Resto ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 sampai 21.00 WIB, khusus hari Minggu buka mulai pukul 07.00 WIB.

“Sebagian besar pengunjung dari luar kota, biasanya tamu yang menginap di guest house sekitar D’Padukan,” ujar Syahrial Salman, pemilik D’Padukan Pie And Resto.

Menurut Syahrial, D’Padukan Pie And Resto dibuka untuk pasar menengah ke atas. Namun, jangan berpikir harga makanan dan minuman yang dijual mencekik leher.

Pie yang ditawarkan mulai Rp 25.000 per buah dengan diameter 10 sentimeter.

Ia punya alasan khusus menentukan segmen menengah ke atas. Syahrial berpendapat kenyamanan tamu menjadi prioritas.

Oleh karena itu, ia juga tidak menerima tamu rombongan dalam jumlah besar. Grup wisatawan yang berkunjung ke D’Padukan dibatasi tidak lebih dari 75 orang.

Pie yang ditawarkan juga bisa menjadi alternatif oleh-oleh dari Yogyakarta. Ia berharap wisatawan bisa memiliki pilihan lain ketika membawa buah tangan kembali ke daerah asalnya.

D’Padukan juga bekerja sama dengan petani lokal untuk bahan baku. Syahrial mencontohkan, ikan nila diambil dari petani nila sekitar dan kopi yang digunakan adalah kopi Turgo.

“Semata-mata untuk memberdayakan masyarakat setempat sehingga bisa meningkatkan pendapatan mereka,” tuturnya. (Gwen)

 

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Close