News

Bukit Menoreh Akan Disulap Jadi Destinasi Wisata Terkemuka Di Tanah Air

Bandara baru DIY yang berada di Kulonprogo, New Yogyakarta International Airport kini tengah dalam proses pengerjaan. April 2019 mendatang, bandara baru ini ditargetkan bisa beroperasi. Pemrakarsa proyek NYIA, PT Angkasa Pura I memprioritaskan bandara ini hanya melayani penerbangan internasional ketika beroperasi nanti, dan baru kemudian penerbangan domestik. Harapan besar tertuju pada bandara yang dibangun dengan nilai investasi lebih dari Rp 5 triliun tersebut. Insan pariwisata di DIY dan Jawa Tengah berharap, target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 2 juta orang dapat tercapai dengan keberadaan bandara baru.

Asa tersebut masih terjaga mengingat bandara baru tersebut dibangun dengan kapasitas jauh lebih besar dibanding dengan Bandara Adisutjipto. Panjang landasan sekitar 3.600 meter dan lebar 80 meter ini dipercaya mampu dilandasi pesawat berbadan besar. Tak seperti bandara Adisutjipto yang hanya memiliki panjang runway sekitar 2.250 meter sehingga tak mampu didarati pesawat berbadan besar.

PT Angkasa Pura I menyebut jika sudah banyak maskapai penerbangan internasional yang mengajukan izin untuk beroperasi di Bandara baru tersebut. Hanya saja, PT Angkasa Pura I belum meloloskan permohonan ijin tersebut. Sebab, harus ada verifikasi terlebih dahulu terkait pengajuan ijin penerbangan tersebut. Tak hanya itu, pemerintah juga telah bersiap menyambut operasional bandara baru tersebut agar memiliki multiplayer efek yang besar bagi DIY dan Jateng. Pembangunan infrastruktur mulai dari jalan tol hingga jalur kereta api bandara juga digagas oleh pemerintah. Revitalisasi stasiun Tugu juga dilakukan untuk menyambut operasional bandara baru ini.

Bahkan, Pemerintah akan membentuk sebuah destinasi wisata baru di kawasan Perbukitan Menoreh. Bertempat di di perbatasan antara Kabupaten Kulonprogo, Purworejo dan Magelang, destinasi wisata baru tersebut akan dibangun seluas 309 hektare. Menggunakan lahan hutan pinus yang sekarang dikelola oleh Perum Perhutani akan dipoles menjadi menjadi destinasi terkemuka dengan konsep Glamorous Camping, Eco Resort, Fine Dinning Restaurant dan MICE dengan mengedepankan Culture and Adventure Eco Tourism.

Untuk persiapan dan operator dari destinasi wisata baru tersebut, pemerintah membentuk Badan Otorita Borobudur (BOB). BOB adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Kementrian Pariwisata untuk menunjang percepatan pencapaian target 2 juta wisatawan mancanegara yang hadir di DIY dan Jawa Tengah. “Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 46 tahun 2017, BOB memiliki tugas otoritas dan kewenangan. Zona otoritatif mencakup kawasan seluas 309 hektare di Kabupaten Purworejo. Sementara Zona Koordinatif meliputi Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Borobudur-Yogyakarta,”terang Direktur Keuangan, Umum dan Komunikasi Publik BOB, Sigit Widianto.

Destinasi baru ini memang disiapkan untuk menyambut beroperasinya bandara baru, New Yogyakarta International Airport (NYIA). Lokasi dari destinasi baru tersebut nantinya dianggap cukup strategis karena berada di perbatasan 3 kabupaten. Untuk menuju ke tempat tersebut, jarak tempuh dari bandara baru hanya sekitar 1-1,5 jam perjalanan darat.

Tanah seluas 309 hektare yang akan digunakan sebagai Destinasi terkemuka tersebut memang masih dikuasai oleh Perbum Perhutani. Namun ke depan, 50 hektare dari tanah tersebut akan beralih alas haknya menjadi Hal Pengelolaan Lahan yang dikuasai oleh BOB. Sementara sisanya sekitar 259 hektare akan dikerjasamakan antara kedua belah pihak.

“Dengan adanya destinasi baru ini, kami menargetkan ada penambahan wisatawan asing sebanyak 150 ribu orang. Sesuai dengan kapasitas kami,”tambahnya.

Direktur Industri Pariwisata, Kelembagaan Kepariwisataan BOB, Bisma Jatmika menambahkan, destinasi khusus ini akan menjadi destinasi unggulan di Jawa Tengah dan DIY. Selain fasilitasnya yang lengkap dan mampu menarik wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik khususnya kelas menengah ke atas.

“Konsepnya akan seperti Nusa Dua Bali dan Mandalika,”ujarnya.

Tahun 2019 mendatang, proyek ini akan mulai dibangun infrastrukturnya. Untuk membangun kawasan tersebut, investasi yang dibutuhkan memang cukup besar karena mencapai Rp 1,5 triliun. Bahkan nilai investasi pembangunan tahap pertama saja akan menghabiskan anggaran Rp 200 hingga Rp 300 miliar.

Untuk itu, pihaknya mengundang para investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya di kawasan tersebut. Pihaknya optimis, besaran dana tersebut akan tercapai mengingat sebenarnya saat ini sudah ada investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya. Namun saat ini ia belum bersedia mengungkapkannya.(lng)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Close