Destinations

Blusukan di Chinatown-nya Kota Yogyakarta

KAMPUNG Ketandan tidak hanya sekedar menjadi ‘chintown’ Kota Yogyakarta, tetapi menyimpan cerita tersendiri berbalut sisa-sisa kemegahan bangunan berarsitektur akulturasi tiga budaya. Keunikan bangunan heritage berusia lebih dari dua abad tersebut menjadi saksi bisu sejarah yang melekat didalamnya dan tidak bisa diabaikan dari keberadaan etnis Tionghoa di Yogyakarta. Bagi penggemar wisata minat khusus, Kampung Pecinan Ketandan tepat berada di sebelah Tenggara Perempatan Jalan Malioboro, Jalan Pajeksan dan
Jalan Suryatmajan Yogyakarta ini patut disinggahi.

Ketandan yang menjadi Chinatown-nya Kota Yogyakarta

Akses menuju kawasan wisata heritage dan sejarah ini sangat mudah dijangkau dan dapat dikelilingi dengan berjalan kaki sambil menikmati pemandangan aktifitas penghuninya yang mayoritas berdagang.Tidak bisa dipungkiri meskipun telah disentuh moderenisasi, predikatnya sebagai salah satu kawasan penting yang memiliki banyak peninggalan sejarah bercirikan Tionghoa masih menjadi magnet wisata tersendiri. Kawasan yang awalnya merupakan pemberian dari Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono III kepada petugas pajak bernama Tan Jin Sing keturunan Hokkien bergelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Secadiningrat kini tumbuh menjadi kawasan perdagangan. Lokasinya juga berdekatan sekali dengan sentra perekonomian utama di DIY, Pasar Beringharjo seolah-olah membuat kawasan ini tidak pernah tidur.Kampung ini jadi saksi akulturasi budaya antara China, Jawa dan Eropa mengingat kawasan yang mayoritas warganya memang keturunan Tionghoa ini lahir di zaman kolonial dan Kraton Yogyakarta. Jadi bangunan-bangunan tua yang 80 persen masih ada di kawasan yang terdiri dari dua RW dan delapan RT tersebut tidak murni arsitektur China, namun telah berakulturasi dengan budaya setempat tanpa menghilangkan keasliannya.Apabila diamati dengan seksama, seluruh bangunan yang ada di Kampung Ketandan bertingkat dua dengan ciri khas memanjang ke belakang.

Rata-rata bangunan yang ada disana lantai bawah difungsikan untuk berdagang sedangkan lantai atasnya dipakai untuk tempat tinggal mereka, hal inilah yang menjadi salah satu ciri lain kampung Pecinan. Selain itu di rumah dengan arsitektur Tiongkok biasanya terdapat jangkar di dinding. Akulturasi budaya dapat terlihat pada atap bangunan yang menyerupai gunungan dalam budaya Jawa dan tembok-tembok berwarna putih megah ala Eropa.Kampung Ketandan tidak hanya ingin dikenal karena hanya ramai pada saat perayaan Tahun Baru China yang memang selalu dipusatkan di kawasan tersebut. Setelah benar-benar dihidupkannya kembali nantinya, Ketandan bukan hanya menjadi kampung pecinan bisa namun diharapkan dapat melestarikan kebudayaan China yang telah hilang. (Ani)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Close